Ketika Lamya Kaddor mulai mengajar di Sekolah Gluecklauf di kota pertambangan di Jerman ini, ia memutar otak bagaimana menyajikan materi yang menarik bagi anak didiknya. Ia membayangkan, kelasnya bakal "tegang" karena materi yang disampaikan lumayan "berat", atau bahkan muridnya bosan dan pergi. Namun yang terjadi diluar dugaan.
Pelajaran agama Islan yang menjadi mata pelajara pilihan, diikuti banyak siswa. Tak hanya anak-anak muslim, tapi juga nonmuslim. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan mereka dan bagaimana pandangan Islam soal itu. Di negara bagian North Rhine Westphalia, misalnya, kelas Islam bukan hal baru. Di kota dimana sepertiga dari umat Islam Jerman hidup, ada 150 sekolah umum menawarkan studi islam untuk 13 ribu anak-anak mulai kelas 1 sampai 10. Sekitar 200 sekolah mengajarkan kursus nasional, yang didirikan oleh pemerintah negara bagian bekerja sama dengan kelompok-kelompok muslim lokal.
Sekolah-sekolah banyak mendapatkan hal positif dengan pendidikan ini. Hans-Jakob Herpers, kepala sekolah Gluecklauf, menyatakan bahwa guru agama islam tak sekedar mengajarkan agama islam saja. "Dia telah menjadi semacam penasihat kehidupan bagi para siswa, terutama untuk anak perempuan, yang mungkin tidak berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu pada orangtua atau di sekolah-sekolah agama," ujuarnya
Herpers mengaku, semua agama mengajarkan kebaikan. Satu lagi yang terpenting. Siswa muslim telah mendapatkan identitasnya bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Jerman yang hak-haknya dihargsi seperti yang lain.
Cukup sekian pemaparan yang dapat saya sampaikan, kurang dan lebihnya mohon dimaafkan.
Terimakasih..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar